-
Belajar dari Cacing
-
New Masyarakat.net
-

Ashar Tamanggong (bak)
Ashar Tamanggong
Cacing itu kecil, tidak bergigi, tidak berkaki, bahkan sering dianggap menjijikkan.
Tapi justru dari makhluk yang sering kita injak ini, hidup memberi banyak pelajaran.
Pertama, cacing selalu bekerja dalam diam.
Ia tidak ribut minta diperhatikan, tidak pamer hasil. Tapi tanah yang gersang bisa subur karena jasanya. Hidup tak selalu butuh tepuk tangan manusia, cukup ridha Allah.
Kedua, cacing tidak memilih tanah.
Tanah hitam, merah, becek, bahkan kotor—semua dijalani.
Jangan menunggu kondisi sempurna untuk berbuat baik. Kebaikan justru lahir di situasi sulit.
Ketiga, cacing tahu arah.
Walau hidup di bawah, ia bergerak maju, tidak mondar-mandir tanpa tujuan.
Hidup sederhana tak masalah, asal punya arah dan niat yang lurus.
Keempat, cacing bermanfaat meski tak disukai.
Banyak orang jijik melihatnya, tapi petani senang karena tanahnya menjadi gembur.
Tidak semua orang harus suka pada kita, yang penting hidup kita membawa manfaat.
-
Baca Juga :
-
Dan yang paling penting,
cacing mengajarkan kita rendah hati.
Ia selalu di bawah, tapi justru dari bawah itulah kehidupan di atas bisa tumbuh.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Jadi, kalau hari ini kita merasa kecil, tidak dianggap, atau berada di “bawah”,
ingatlah cacing:
tetap bergerak, tetap bermanfaat, dan tetap ikhlas.
Karena dalam hidup,
yang dinilai bukan siapa yang paling tinggi,
tapi siapa yang paling memberi arti.
Manggarupi, 2/1/26
-
Update Info Covid 19 Nasional dan Internasional Disini:
-
Tag :
-
Komentar :
-
Share :