-
HIDUP ADALAH UJIAN
-
New Masyarakat.net
-

Aswar Hasan (aras)
Aswar Hasan
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2).
Hidup di dunia adalah anugerah tetapi sekaligus merupakan ujian. Ayat tersebut (suatu Al Mulk ayat 2) menegaskan bahwa hidup bukanlah ruang bermain atau semata tempat bersenang-senang. Ia adalah arena ujian, di mana manusia diuji bukan hanya dengan kesulitan, tetapi juga dengan kesenangan, bukan karena kemiskinan tetapi juga dengan kekayaan dstnya.
Menurut tafsir Al-Jalalayn Allah menyebut dua hal yang berlawanan (mati dan hidup) sebagai bukti kekuasaan-Nya. Tujuannya adalah ibtila’ (ujian) untuk melihat siapa yang terbaik amalnya, bukan siapa yang paling banyak amalnya.
Sementara menurut Sayyid Qutb, menekankan bahwa kehidupan bukan sekadar eksistensi fisik, tetapi sebuah medan ujian yang penuh tanggung jawab moral dan spiritual. Ujian tersebut untuk mengetahui siapa yang hidup dengan kesadaran untuk beribadah dengan keikhlasan, dan komitmen kepada nilai-nilai Islam.
Allah menyebut diri-Nya "Al-‘Azīz" (Maha Perkasa), karena hanya dengan keperkasaan-Nya Dia mampu menciptakan sistem hidup-mati ini; dan "Al-Ghafūr" (Maha Pengampun) karena Dia memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan memperbaiki amal-amalnya.
Dengan demikian, hidup dan mati bukanlah tujuan akhir kita, tapi sebagai alat uji dari Allah kepada kita. Karenanya tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beramal, dan Allah akan menilai kualitas amal kita dan bukan sekadar kuantitasnya. Allah Maha Perkasa, mampu membalas siapa saja yang tidak lulus ujian ini, tapi juga Maha Pengampun, memberi ampunan bagi yang bertobat dan beramal dengan ikhlas.
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka." (HR. Tirmidzi). Jadi, ujian itu adalah bentuk kecintaan Allah kepada kita.
Hadis ini menunjukkan bahwa ujian adalah bagian dari tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak ingin manusia lalai dalam dunia yang fana, tetapi terus sadar dan terarah menuju kehidupan akhirat yang abadi.
Ujian hidup tersebut, datang dalam berbagai rupa, baik itu kemiskinan, kekayaan, sakit, sehat, punya jabatan atau tidak, kehilangan, keberhasilan, dan lainnya. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155 telah menjelaskan, bahwa;
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa semua bentuk kehidupan manusia tak lepas dari ujian. Bahkan, Nabi dan para Rasul adalah manusia yang paling berat ujiannya karena kedudukan mereka paling mulia di sisi Allah.
-
Baca Juga :
-
Hojjatul Islam, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menyatakan bahwa dunia ini ibarat ladang, di mana setiap manusia sedang menanam amalnya. Musibah dan ujian adalah alat pembuka hati, agar manusia tidak bergantung pada dunia semata.
Sementara itu, Syekh Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa ujian bukan selalu berarti kesulitan. Terkadang kekayaan dan popularitas justru lebih berat ujiannya, karena bisa membuat seseorang lalai dari Allah. Sedangkan Sayyid Qutb, dalam tafsirnya Fi Dzilalil Qur'an, mengatakan bahwa ujian merupakan cara Allah menyaring siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang sekadar mengaku.
Dalam sorotannya terhadap QS. Al-Ankabut ayat 2, beliau menulis bahwa iman itu harus dibuktikan melalui pengorbanan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan.
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman', dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2).
Dr. Tariq Ramadan, cendekiawan Muslim kontemporer, menegaskan bahwa ujian hidup adalah proses pembentukan karakter. Tanpa ujian, manusia tidak akan menemukan potensi terbaiknya. Ia menyebutkan bahwa ketahanan spiritual seseorang terasah ketika menghadapi tekanan kehidupan.
Hamka, dalam tafsir Al-Azhar, memaknai ujian sebagai sarana pendewasaan jiwa. Ujian mengajarkan makna tawakal, syukur, dan kesabaran. Bahkan kesulitan membuat seseorang lebih mengenal dirinya dan Penciptanya.
Langkah – langkah yang diperlukan menghadapi ujian tersebut, adalah ;
1. Sabar – Sabar adalah kunci utama menghadapi ujian. Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya." (HR. Muslim) Karena bila mendapat kesenangan, dia bersyukur. Bila tertimpa kesulitan, dia bersabar.
2. Syukur – Ketika diuji dengan nikmat, jangan lalai. Kekayaan, kesehatan, dan jabatan juga ujian. Orang yang bersyukur akan semakin ditambah nikmatnya (QS. Ibrahim: 7).
3. Muhasabah – Evaluasi diri perlu dilakukan saat diuji. Mungkin ada dosa yang perlu disadari, atau mungkin ujian itu adalah jalan peningkatan derajat (QS. At-Taghabun: 11).
Jadi, hidup adalah ujian yang tak pernah usai hingga ajal menjemput. Ujian bukan tanda kebencian Allah, tetapi justru bukti kasih sayang-Nya agar manusia tumbuh, sadar, dan kembali kepada-Nya. Dengan memahami bahwa hidup adalah ujian, kita akan lebih siap menerima kenyataan, menjalani hidup dengan kesungguhan, dan tidak putus harapan dalam rahmat Allah. "Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46). Dengan demikian, hadapilah ujian itu dengan kesabaran. Wallahu a’lam bisawwabe.
-
Update Info Covid 19 Nasional dan Internasional Disini:
-
Tag :
-
Komentar :
-
Share :